Kemarin kutanya: kamu bahagia?
Anggukmu ternyata berhasil mengusir sebagian galauku. Apalagi yang lebih penting dari itu? Klise, tapi ternyata benar. Jargon norak ‘bahagiamu bahagiaku’ sudah berlaku disini.
Lalu galau yang sebagian lagi? Dengan suka cita kukembalikan kepada Sang Maha, agar Dia mengubahnya segera menjadi keyakinan & kemantapan hati, bahwa inilah yang terbaik.
Keputusan besar yang kamu ambil –kita ambil- di usia delapan ini, cukup menggoyang pijakanku yang semula relatif datar. Menepuk punggung malasku agar benar-benar bangun dari kecengengan dan kemanjaan selama ini –hei, itu gara-gara kamu juga kan, aku sudah terlalu terbiasa dengan ‘kita’-. Berubah menjadi lebih kuat, sudah tidak bisa ditawar lagi.
Delapan! Meski membuai, tapi penuh pembelajaran. Semoga menjadi modal kuat untuk sembilan, dua belas, dua lima, tiga puluh, selamanya… amiin.
Memantapkan kembali tujuan akhir kita, meraih ridhoNya. InsyaAllah.
Selamat milad perkawinan!
7 Juli 2008
Kangen kamu banget!